Al ilmu nu'run

Assalamu’alaikum wa rahmatulllahi wa barakaatuh

Sebelumnya saya mohon maaf untuk menanggapi tulisan yang sebenarnya tidak tercantum (ditujukan) kepada Abu Sangkan, yang berjudul ma’rifat. Pada ulasan singkat tersebut ditegaskan bahwa untuk beribadah harus menemui Nur-Nya, karena tidak mungkin kita bisa bertemu dengan Dzat yang mutlak. Dan untuk menemui Nur-Nya harus mencari mursyid untuk mengajarkan syahadat yang hakiki. ….

Tujuan saya menanggapi tulisan tersebut adalah untuk menambah wacana kita, mungkin kita bisa menganalisa mana yang baik dan mana yang dianggap logis menurut tingkat penangkapan intelektual kita. Bukan untuk adu debat atau yang lainnya, tetapi semata-mata karena kita perlu wacana untuk kebijakan kita berfikir. Agar kita tidak egois menurut satu pendapat saja. Setelah kita tahu pendapat orang lain, maka kita bisa mengambil kesimpulan bagaimana kita seharusnya bersikap dengan arif. Tanpa melecehkan pendapat yang masih belum sampai ketingkat yang lebih baik.

Hal ini untuk menyadarkan kita bahwa ilmu pengetahuan itu bergerak dinamis dan universal, tidak berhenti sampai disini. Dan mudah-mudahan kita tidak menggunakan kata-kata primitif POKOKE !! untuk membenarkan diri sendiri. Insya Allah, Allah akan merahmati kita selama kita tetap mencari yang lebih baik, alladzina jahadu fiina lanahdiyannahum subulana …..

Mari kita buka surat An Nur 35, yang artinya :

Allah (pemberi) cahaya (kepada )langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Professor Ali Ash Shabuni, mufassir terkemuka masa kini memberikan penjelasan mengenai arti ayat diatas dalam kitab tafsir Shofwatut Attafaasir halaman 240, sebagai berikut ;

Allah cahaya bagi langit dan bumi, yaitu Allah sebagai munawwir ( yang menerangi ) langit dan bumi. Allah menerangi langit dengan bintang-bintang yang terang dan menerangi manusia di bumi dengan syariat dan hukum-hukum. Oleh sebab itu di turunkanlah utusan-utusan (rasul-rasul) yang mulia. Arti Cahaya ( Nur) disini adalah ciptaan Allah berupa bintang-bintang atau matahari, sedangkan Cahaya (Nur) bagi penduduk bumi berupa hukum-hukum atau syariat. Dan diturunkan rasul-rasul sebagai Nur yang memberikan pencerahan dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang …minadhz dhzulumati ilan nuur (Al Baqarah ayat 257 ). Pada tafsir ini disimpulkan bahwa cahaya itu ciptaan Allah bukan Allah itu sendiri. Jika demikian arti cahaya sebagai diluar Tuhan (ciptaan) maka kita telah syirik apabila menghadap kepada ciptaanNya.

Mari kita lanjutkan dengan pendapat yang lain :

Telah berkata Ath Thabari : Allah sebagai Pemberi petunjuk ( Al Hadi ) bagi penduduk langit dan bumi dengan cahayanya menuju kebenaran ( Al Haq ) dan memberikan tuntunan ( isymat ) untuk keluar dari perbuatan yang tercela.

Allah yang menuntun penduduk langit dan bumi dengan berbagai macam cara, berupa ilham, isymat ( tuntunan secara langsung ), sehingga orang keluar dari perbuatan yang tercela menjadi kebaikan. Hal ini terjadi kepada Nabi Yusuf Alaihissalam : Sungguh wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu ) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu, andai kata tidak melihat tanda (Burhan/ cahaya/ pencerahan) dari Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang berserah diri (Yusuf :24)

Allah memberikan pencerahan (burhan) kepada nabi Yusuf berupa bimbingan dan tuntunan (‘Isymat) agar selamat dari perbuatan yang tercela. Dengan demikian nabi Yusuf telah mendapakan Nur Allah, artinya Yusuf telah mendapatkan ilham dari Allah .

Kemudian pendapat Syekh Al Qurthuby : Kata Cahaya ( An Nur) bagi orang-orang Arab, sering digunakan sebagai majaz ( perumpamaan ) untuk memberikan makna kepada sesuatu kata yang sulit di ungkapkan, sehingga mereka cukup berkata itu "Nur".

Kata-kata majaz ini sebenarnya tidak perlu kita fahami sebagai arti yang sebenarnya , sebab kita akan menjadi bingung sendiri.

Seperti ungkapan seorang penyair : Engkau bagiku adalah Nur, artinya sebagai penolong dan penuntun.. ada juga orang yang berkata : Si fulan itu cahaya (Nur) bagi Negerinya , sebagai matahari dan bulan.

Bagi orang-orang Arab lumrah saja mengatakan bahwa Allah adalah Nur bagi alam semesta. Disebut demikian karena adanya alam ini berasal dari Allah, bergantung kepadanya, dan yang mengatur segala urusannya dengan ketetapan kudrat-Nya. Maka Allah disebut Nur alam semesta. Kita tidak perlu mengkotak-katik kata majaz ini sebab kita akan tersesat sendiri, seperti pada kalimat "saya mau pergi ke rumah sakit". Kalau kita tidak mengerti kata majaz, kita akan menjadi gila karena tidak akan menemukan rumah yang menderita sakit. Atau ada kalimat "nyiur melambai-lambai", kita cukup mengerti apa yang dimaksudkan tanpa harus mengatakan nyiur kok melambai-lambai, memangnya punya tangan ??. Pada masa Nabi hal itu tidak pernah ditanyakan artinya, karena para sahabat sudah faham maksudnya dan kalimat (majaz /perumpamaan) itu sudah terbiasa di gunakan untuk menjelaskan sesuatu yang sulit dimaknai dengan baik. Seperti pada kalimat "Allah menciptakan langit dan bumi dengan kedua tangannya.", kita tidak perlu membayangkan tangan Allah segede apa ya ..??

Berkata Ibnu Athaillah : beliau menafsirkan Nur yaitu " keadaan segala sesuatu pada dasarnya adalah kegelapan ( ketiadaan ), kemudian Allah menerangi dengan Nur-Nya sehingga menjadi tampak / terwujud atau menjadi ada. Kalaulah tidak ada wujud Allah maka tidak akan ada wujud segala sesuatu ini. Sebagaimana hadist Rasulullah Saw : Allahumma lakal hamdu anta nurussamawaati wal ardh waman fihinna ~ Ya Allah, Engkau adalah cahaya bagi langit dan bumi beserta isinya )

Pada dasarnya segala sesuatu itu tidak ada, yang ada hanyalah Allah. kemudian semua menjadi ada, disebabkan adanya Allah. maka Allah disebut Cahaya ( Nur ), karena yang memulakan ada.

Berkata Ibnu mas’uud : laisa ‘inda rabbikum lailun wa nahaarun. yang dimaksudkan adalah wujud Allah yang tidak terpengaruh oleh waktu malam ataupun siang, sebab Dzat Allah tidak terikat oleh segala sesuatu, akan tetapi segala sesuatu terikat atau bersandar kepada Dzatullah. Secara tegas beliau mengartikan nurussamawati wal ardh itu adalah Dzatullah.

Berkata Ibnu Qayyim : Allah swt menamakan dirinya Nur. Dan Allah juga menamakan kitabnya Nur, rasul-rasul-Nya sebagai Nur, menghijabi dirinya dan makhluknya dengan Nur.

Dengan demikian telah sepakat para mufassir untuk mengartikan Allah Nurussamawati wal Ardh sebagai Al hadi; yang memberikan hidayah, yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Dalam hal ini tidak ada pertentangan antara Ibnu Mas’ud, Ibnu Qayyim dan yang lainnya. Mereka sepakat bahwa Nur adalah Allah sendiri bukan cahaya-Nya. Sebab kalau cahaya dengan arti yang sebenarnya maka kita telah menyembah bukan Dzat-Nya tetapi ciptaan-Nya sehingga kita termasuk orang yang berbuat syirik. Sama halnya apabila kita menyembah matahari, karena matahari juga disebut Nur, kitab-kitab disebut Nur, ilmu juga disebut nur, hidayah berarti nur, si fulan juga nur bagi negaranya, Muhammad juga nur dst. Akan tetapi yang dibahas pada ayat diatas adalah Allah sebagai Nur, nurun ‘ala nurin. Dia cahaya diatas cahaya .

Untuk lebih jelasnya kita lanjutkan bagaimanakah kenyataan Nur yang dimaksudkan oleh tafsir berikutnya : ( matsalu nuurihi ) perumpamaan cahaya Allah dalam hati orang-orang mukmin bagaikan sebuah misykat ( kamisykatin fiha misbahun / cerukan pada dinding yang didalamnya terdapat pelita, yaitu cahaya yang terhimpun di dalam misykat yang mengakibatkan cahaya itu bersinar amat terang sekali .

Di dalam kitab Tasyhil dijelaskan : Bahwa makna sifat Nur Allah sulit digambarkan oleh pikiran manusia, maka dibuatlah perumpamaan seperti sifatnya misykat yang didalamnya ada pelita yang terang benderang karena sinarnya terhimpun disitu. Misykat itu ibarat hati orang mukmin, sedangkan hidayah itu adalah Nur Allah yang menuntun hati orang mukmin menuju jalan yang haq. Dengan Nur itulah Allah akan membimbing menjadi ‘khusyu’, bertakwa, bergetar hatinya dikala disebut nama Allah, dan menenangkan hati, serta melapangkannya. Nur Allah itu bukan berwarna kuning, biru, atau yang putih berkilauan, sebab itu masih berupa apa yang bisa kita bayangkan. Sedangkan Nur Allah bukan berupa huruf, bukan suara, bukan wujud materi. Seperti disebutkan didalam kitab Masyariq, bahwa Nur, ilham, wahyu, ialah sesuatu yang diberitahukan dalam keadaan tersembunyi dan cepat. Dikehendaki dengan cepat ialah dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan kedalam jiwa sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul pikiran dan muqaddimat-muqaddimatnya. Itulah yang dimaksudkan Allah memberikan tuntunan dengan Nur-Nya. Nur di sini berarti ilham atau wahyu , intuisi, naluri.

Almishbahu fii zujaajah), pelita itu terbuat dari kaca yang bening, seakan-akan bintang-bintang seperti mutiara, yang minyaknya berasal dari pohon zaitun yang di berkati. Dan mengandung manfaat yang sangat banyak.

Laasyarqiyya wa la gharbiyyah ~ tidak tumbuh ditimur dan tidak juga di barat. Ayat ini menggambarkan bahwa Nur itu tidak bisa digambarkan sehingga tidak bisa dikatakan berada dimana dan bagaimana. Tidak barat juga tidak timur berarti tidak ada batas ruang waktu, tidak ada tempat. Diibaratkan berada di ruang yang tidak ada apa-apa, misalnya berada di padang pasir yang luas, tidak ada gunung, tidak ada pohon, tidak ada goa, atau seperti kalau kita berada diruang angkasa, kita berada di luar pengaruh siang dan malam, tidak dibatasi oleh bumi dan planet lainnya maka kita akan berada di wilayah yang tidak ada barat, timur, atas, bawah, utara, selatan, tidak ada kemarin tidak ada akan datang , tidak ada hari senin, selasa , bulan, januari, februari dll, yang ada kekinian atau keabadian .

Kyai Tuguh (Seorang Ulama Khas di Bondowoso) memberikan wejangan hakikatnya dengan berbahasa Madura: "Neka akherat benne bere’ benne temor. Jebe neka sobung, madure neka sobung, Cena neka sobung, Mekkah neka sobung, Madina neka sobung, sebede Akherat!!" Ini Akhirat, bukan Barat bukan Timur, Pulau Jawa ini tidak ada, Madura tidak ada, Cina tidak ada, Mekkah tidak ada, Madina tidak ada, yang ada Akhirat. Inilah penggambaran bahwa alam hakikat itu tidak di bisa dibatasi oleh ruang dan waktu serta batasan pikiran sempit manusia. Kita harus memasukinya bukan berada pada batas ruang dan waktu ~ karena kita akan menjadi kecil dan sempit. Sebab pikiran dan perasaan tidak akan mampu menggambarkan (memberikan persepsi) atas keadaan hakikat kecuali kita mampu "memfanakan" diri dan alam semesta maka wajah Dzat yang ada . Karena rasa dan pikiran bukanlah sebuah ukuran untuk memberikan perbandingan yang amat luas dan tak terhingga, kasih sayang Allah tidak bisa di uraikan oleh keutuhan rasa manusia. Selama ini kita hanya mengira atau menyangka (dzhan) bahwa kasih sayang dan kehebatan Allah itu bisa kita rasakan. Itu hanyalah anggapan bukan keadaan yang sebenarnya. Karena rasa manusia itu terlalu kecil untuk bisa menggambarkan kenyataan kasih sayang Allah. Maka benarlah kita ini ternyata hanya bisa mengira dengan dzhan kita …inna dzhanni abdi …Aku menurut persangkaan hamba-hamba-Ku …..

... yukadu zaituha yudhi-u walaulam tamsashu naarun ~ yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api (kalimat ini merupakan mubalaghah, didalam mensifati minyak yang sangat bersih dan bening apalagi kalau disentuh api)

Nurun ‘ala Nurin ~ Allah adalah Cahaya diatas cahaya .

Sesungguhnya telah terhimpun cahaya dan penutup lampu yang indah, minyak yang bersih maka sempurnalah cahaya yang diperumpamakan dengannya. Maka Allah-lah yang berada diatas segala cahaya, karena Dialah yang menggerakkan cahaya (ilham) kepada siapa saja yang dikehendaki .

Kesimpulan dari tafsir diatas dengan mempertimbangkan beberapa pendapat ulama masyhur seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Athoillah, Ibnu Qayyim dan kitab-kitab yang terkenal keshahihannya adalah bahwa kata "NUR" merupakan kata majazi yang bisa digunakan untuk penyebutan apa saja yang memiliki kelebihan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Seperti matahari merupakan Nur bagi langit, si fulan adalah Nur bagi negerinya karena ia adalah anak yang telah membawa nama harum bangsanya serta pengabdiannya yang tidak ternilai. Rasulullah adalah Nur bagi ummat yang keadaannya sangat jahiliyyah, sehingga Syekh Al barzanji menulis syair untuk beliau " anta syamsu anta badru anta nurun fauqa nurin, engkau adalah matahari, engkau adalah bulan dan engkau adalah cahaya yang terang diatas segala cahaya.

Alqur’an juga di sebut An Nur, karena merupakan firman Allah yang memberikan jalan kebenaran dan tuntunan hidup bagi manusia.

Ilham merupakan Nur dari Allah, disebut Nur karena merupakan pencerah hati dari yang gelap dan buta menjadi faham dengan ilmu pengetahuan.

Gambaran ayat diatas adalah menerangkan keadaan hati orang mukmin yang terang setelah mendapatkan pencerahan dari Allah berupa ilham atau hidayah. Cahaya yang dimaksudkan bukanlah Dzat Allah akan tetapi ilham/ hidayah. Dan Allah menggelari dirinya sebagai Nur diatas Nur (Nurun ‘ala Nurin), yaitu Cahaya Yang menggerakkan Cahaya, yang menciptakan cahaya (bintang-bintang), menurunkan cahaya-cahaya yang menerangi ummat (rasul-rasul), memancarkan cahaya berupa ilham atau intuisi yang menerangi kebodohan (Al ilmu nurun / ilmu itu cahaya), cahaya-cahaya tersebut bukanlah Dzat Tuhan, dan barang siapa menyembah kepada cahaya-cahaya tersebut berarti telah terjebak kepada cahaya yang diciptakan Tuhan. Kita disuruh mencari sumber cahaya yaitu Nurun ‘Ala Nurin, Cahaya diatas Cahaya.

Ada dua Nur yang di uraikan diatas :

Pertama adalah Nur yang bersemayam dihati orang mukmin. Seperti yang telah digambarkan sebagai misykat yang didalamnya terdapat pelita yang terang dengan minyak yang berasal dari pohon zaitun yang diberkati. Maka Nur tersebut berarti ilham yang masuk kedalam jiwa yang dikendaki oleh Allah (pencerahan), melalui ilham itu manusia dapat mengikuti tuntunan atau petunjuk Allah kepada Yang Haq .

Yang kedua, Nurun ‘ala Nurin. yang dimaksud Nur disini adalah Dzat Allah. seperti yang telah diuraikan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Qayyim. Karena Allah menamakan dirinya juga Nur, artinya yang mengadakan dan yang menggerakkan cahaya-cahaya, yang menurunkan Nur( ilham ) kedalam hati orang mukmin. Maka Allah disebut Nurun ‘ala nurin…cahaya diatas cahaya, yaitu cahaya yang menguasai seluruh cahaya. Dengan demikian Nur yang dimaksudkan adalah Dzat Allah yang tidak bisa diserupakan dengan makhluknya. Kepada Dzat inilah kita kembali dan bersujud, bukan kepada Nur yang diciptakan.

Katakanlah : Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa . barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukannya ( Al Kahfi: 110 )

Ayat ini merupakan peringatan bagi orang yang mencari Tuhannya untuk bermakrifat kepada Allah bukan kepada selain Allah, sebab banyak orang terjebak kepada logika yang keliru ketika ia berpendapat bahwa: kita tidak bisa membayangkan wajah Allah, lalu dengan sangat disesalkan ia mengatakan: kita cukup menuju kepada Nur-nya saja .

Ketidakbisaan kita untuk berkomunikasi kepada Dzat yang tidak bisa diserupakan dengan makhluknya bukan lantas kita harus mengatakan, "kalau begitu kita cukup menyembah kepada Nurnya saja, sedangkan Nur itu bukan Allah dan justru Allah secara tegas mengatakan diri-Nya juga disebut Nur diatas Nur. Artinya yang mengadakan Nur yang menyebabkan adanya Nur. Berarti nur-nur itu berada dibawah Allah atau bersandar kepada Allah. Dengan demikian kita tidak mungkin bersujud dan berkonsentrasi kepada yang bersandar (makhluk), sama halnya "sifat" yang bergantung dengan Dzat, maka sifat bukanlah Dzat itu sendiri.

Dialah yang memberikan taufik untuk mengikuti Nur-Nya yaitu Alqur’an. Dialah yang menyinari langit dan bumi dengan bintang-bintang (Nur) Dialah yang memberikan pengetahuan (Al ilmu nurun / ilmu adalah cahaya), Allah mengutus Rasulullah sebagai Nur untuk mengeluarkan masyarakat jahiliyyah (kegelapan) menuju Nur.

Sesungguhnya AKU ini bernama Allah, tidak ada Tuhan selain AKU, maka sembahlah AKU dan dirikanlah shalat untuk mengingat AKU . (QS Thaha:14 )

Ayat ini merupakan kalimat yang harus dijadikan pegangan di dalam beribadat dan mengingat Allah seperti shalat ataupun berdzikir. Yaitu sembahlah AKU-nya dan AKU (Dzat) mengenalkan dirinya bernama ALLAH. AKU inilah yang tidak laki-laki tidak perempuan dan tidak bisa di serupakan dengan makhluknya. Kepada AKU atau Dzatnya kita diperintahkan untuk menyembah dan bergantung, bukan kepada Nur-Nya.

Setelah kita mengambil perbandingan dari para ulama yang masyhur, maka kita bisa mengerti, ternyata tidaklah mudah kita memberikan penafsiran mengenai Al Qur’an yang mengandung banyak kalimat-kalimat majaz dan mutasyabihat. Untuk itu kita semestinya belajar terbuka agar bisa menerima masukan yang baik untuk dijadikan acuan kita berfikir. Dan tidak mudah menutup diri dari pendapat orang lain. Barang kali kitanya yang kurang mampu mencerna kalimat yang sulit atau kurangnya informasi mengenai ilmu yang lainnya, sehingga kita tidak bisa memberikan gambaran yang tepat atau paling tidak mendekati tepat.

Demikianlah uraian saya mengenai Tafsir QS An Nur, mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmahnya. Kalau kita masih belum puas dengan satu tafsir, insya Allah saya bersedia menterjemahkan tafsir-tafsir lainnya seperti pada tafsir Jalalain, Al Maraghi, Fi Dzhilalil Qur’an, Al Munir, Tafsir Ibnu Abbas dll. Kitab-kitab tersebut merupakan acuan yang bisa diterima oleh seluruh kalangan. Insya Allah

Wassalamualaikum Wr, Wb,

Abu Sangkan

(Referensi Tafsir Shafwatut At Tafaasir karangan Prof. Ali Ash Shabuni, Beirut. Diterjemahkan secara bebas Oleh Abu Sangkan Paraning Wisesa )

ليست هناك تعليقات: